Solok – Nurafizal masih mengingat jelas detik-detik banjir bandang atau galodo menerjang kawasan tempat tinggalnya di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Senin (21/9/2026) malam.
Saat itu, hujan awalnya turun gerimis sebelum berubah menjadi hujan deras. Setelah hujan reda, Nurafizal bersama keluarganya sempat membuka pintu rumah.
Namun, pemandangan di luar rumah membuatnya panik. Lumpur mulai mengalir dan masuk ke kawasan permukiman.
“Awalnya hujan gerimis, habis itu datang hujan lebat. Setelah hujan, kita buka pintu. Begitu dilihat keluar, sudah turun lumpur,” kata Nurafizal.
Menurut dia, saat itu lumpur telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Melihat kondisi tersebut, ia langsung meminta seluruh anggota keluarganya menyelamatkan diri.
“Kita langsung lari, bawa semua keluarga lari ke tempat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Nurafizal bersama keluarganya kemudian menuju rumah Dokter Maryati untuk mencari tempat aman. Mereka menunggu di sana hingga akhirnya mendapatkan kendaraan untuk mengungsi ke rumah Wakil Bupati Solok.
Lumpur Setinggi Lutut Masuk Rumah
Rumah Nurafizal tak luput dari terjangan material banjir bandang. Lumpur masuk ke dalam rumah setelah ia dan istrinya menyelamatkan diri.
“Rumah kita masuk lumpur. Pintu kita buka, kita biarkan saja karena langsung lari,” katanya.
Kini, lumpur masih memenuhi bagian rumahnya. Ketinggiannya disebut mencapai sekitar lutut orang dewasa.
“Lumpurnya sekitar setinggi ini, di atas lutut,” ujarnya sambil memperagakan ketinggian lumpur.
Nurafizal tinggal bersama istrinya. Saat bencana terjadi, ia memilih memastikan seluruh keluarganya keluar dari rumah dan menuju lokasi yang lebih aman.
Ia mengatakan rumahnya kini telah dibersihkan oleh warga. Namun, dirinya belum sempat melihat langsung kondisi rumah setelah proses pembersihan tersebut.
Sudah Puluhan Tahun Tinggal di Lokasi
Nurafizal diketahui telah tinggal di kawasan tersebut sejak era 1980-an. Selama puluhan tahun menetap, ia mengaku belum pernah mengalami bencana galodo seperti yang terjadi kali ini.
Menurutnya, cerita tentang kejadian serupa hanya pernah ia dengar dari mertuanya yang menyebut pernah terjadi bencana pada sekitar 1950-an.
Meski kembali menghadapi bencana, Nurafizal mengaku pengalaman membuatnya berusaha tidak panik. Hal utama yang dilakukannya adalah mengarahkan seluruh anggota keluarga untuk segera menyelamatkan diri.
“Kita sudah pengalaman, istilahnya ketakutan sudah sering. Jadi kita tidak panik lagi. Kita arahkan keluarga semua, terus ke jalan ke bawah, ke rumah Bu Dokter Maryati. Kita tunggu di situ dulu,” katanya.
Dari lokasi tersebut, Nurafizal dan keluarganya kemudian menumpang kendaraan yang membawa mereka menuju tempat pengungsian di rumah Wakil Bupati Solok.
Bagi Nurafizal, keselamatan keluarga menjadi hal utama di tengah kepungan lumpur dan material banjir bandang yang menerjang permukiman mereka.(Jamal)






