Duski Samad.
Oleh: Duski Samad*
Kesadaran lingkungan masyarakat global saat ini semakin meningkat, terutama karena dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Beberapa faktor yang mendorong kesadaran ini antara lain perubahan iklim. Suhu bumi yang meningkat, cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan air laut mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Edukasi dan media berupa kampanye lingkungan dari media, aktivis, dan organisasi internasional seperti Greenpeace dan WWF turut meningkatkan kesadaran masyarakat global.
Kebijakan pemerintah banyak negara mulai menerapkan regulasi yang lebih ketat terkait emisi karbon, pengelolaan limbah, dan penggunaan energi terbarukan.
Gaya hidup ramah lingkungan. Masyarakat mulai beralih ke gaya hidup yang lebih hijau, seperti menggunakan kendaraan listrik, mengurangi plastik sekali pakai, dan mendukung produk berkelanjutan.
Teknologi hijau berupa inovasi dalam teknologi ramah lingkungan, seperti energi surya dan mobil listrik, semakin mudah diakses dan membantu transisi ke ekonomi hijau.
Namun, masih ada tantangan seperti kesenjangan ekonomi, kepentingan industri, dan kurangnya kesadaran di beberapa daerah. Upaya kolektif dari individu, pemerintah, dan sektor swasta sangat diperlukan agar kesadaran ini tidak hanya meningkat, tetapi juga diikuti dengan tindakan nyata.
ECOTEOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN
Ekoteologi sebagai pendekatan menawarkan perspektif teologis terhadap isu-isu lingkungan. Ini mengaitkan prinsip-prinsip keimanan dan ajaran agama dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Pendekatan ini dapat diterapkan dalam berbagai cara, tergantung pada tradisi keagamaan yang dianut. Beberapa poin utama dalam ekoteologi sebagai pendekatan.
Teologi penciptaan menegaskan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan, sehingga manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk merawatnya. Dalam Islam, konsep khalifah fil ard (manusia sebagai pemimpin di bumi) menjadi dasar untuk menjaga lingkungan.
Etika lingkungan berbasis agama dengan
Menghubungkan nilai-nilai agama dengan praktik keberlanjutan, seperti larangan eksploitasi berlebihan dan anjuran hidup sederhana. Dalam Islam, konsep mizan (keseimbangan) menekankan pentingnya menjaga harmoni dalam ekosistem.
Transformasi sosial dan kesadaran spiritual dengan mengajak individu dan komunitas untuk lebih sadar terhadap dampak lingkungan dari tindakan mereka.
Memberikan landasan bagi gerakan sosial berbasis agama untuk mengadvokasi kebijakan ramah lingkungan.
Pendekatan dalam pendidikan dan dakwah.
Menggunakan ajaran agama untuk meningkatkan kesadaran lingkungan melalui khutbah, kajian, dan pendidikan.
Mengembangkan kurikulum berbasis ekoteologi untuk membangun generasi yang lebih peduli terhadap alam.
Pendekatan ekoteologi, ajaran agama tidak hanya menjadi pedoman spiritual tetapi juga menjadi pendorong perubahan sosial demi keberlanjutan lingkungan.
ECOTEOLOGI PANTAI TIRAM
Pantai Tiram, yang terletak di Sumatera Barat, memiliki potensi besar dalam pendekatan ekoteologi yakni perpaduan antara ajaran agama (Islam dalam konteks Minangkabau) dan ekologi untuk menjaga keseimbangan alam. Dalam Islam, konsep khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) menekankan tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan.
Beberapa pendekatan ekoteologi yang bisa diterapkan di Pantai Tiram diantaranya konservasi hutan bakau dan ekosistem pesisir sesuai dengan ajaran Islam tentang menjaga keseimbangan alam.
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan edukasi berbasis nilai-nilai agama.
Wisata halal berbasis lingkungan, seperti wisata edukasi ekologi yang mengajarkan keberlanjutan dengan pendekatan Islami.
Prospek Bisnis Berbasis Ekoteologi di Pantai Tiram dengan pendekatan ekoteologi, adalah bahwa pantai Tiram bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata berkelanjutan sekaligus mendukung ekonomi lokal. Beberapa peluang bisnisnya:
a) Wisata Halal dan Ekowisata
Resort dan homestay syariah yang mengusung konsep ramah lingkungan.
Wisata religi & edukasi yang mengajarkan ekologi dalam Islam, seperti kajian tafsir ekologi. Kuliner halal berbasis hasil laut dengan pendekatan “dari laut ke meja makan” yang ramah lingkungan.
b) Usaha Berbasis Kelautan Berkelanjutan
Budidaya rumput laut dan ikan dengan sistem ramah lingkungan, seperti aquaponik atau bioflok. Produk olahan laut organik, seperti kerupuk ikan, abon ikan, dan terasi dengan standar halal dan organik. Ekowisata memancing yang berorientasi pada keseimbangan ekosistem laut.
c) Pengelolaan Lingkungan Berbasis Ekonomi
Bank sampah dan daur ulang kreatif yang mengolah limbah plastik dan organik menjadi produk bernilai jual. Edukasi dan pelatihan komunitas untuk menciptakan wirausaha berbasis ekologi dan Islam.
Program CSR dari perusahaan untuk mendukung konservasi bakau dan pengembangan ekonomi lokal.
Kombinasi ekoteologi dan bisnis berbasis lingkungan, Pantai Tiram bisa menjadi model wisata halal berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan ekonomi lokal tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan nilai-nilai Islam.
NASH DAN FATWA WISATA EKOTEOLOGI
Dalam Islam, konsep wisata harus sesuai dengan syariat, tidak melanggar akidah, dan mendukung kemaslahatan umat. Berikut beberapa nash dan fatwa yang relevan di antaranya Al-Qur’an (QS. Al-A’raf: 31): “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”. Ini menekankan pentingnya wisata berbasis keberlanjutan dan tidak eksploitatif terhadap alam.
Dalam QS. Al-Anbiya: 107 artinya..”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Ayat ini menunjukkan bahwa manusia harus menjaga keseimbangan ekologi sebagai bagian dari rahmat Allah.
Dalam Hadis Nabi: “Barang siapa yang menanam pohon, lalu memeliharanya dengan sabar, hingga berbuah, maka setiap yang memakan dari buahnya adalah sedekah baginya.” (HR. Ahmad). Ini dapat diterapkan dalam konservasi bakau dan ekowisata berbasis lingkungan.
Fatwa MUI terkait dengan ekologi menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Wisata halal harus bebas dari unsur maksiat, seperti alkohol, judi, dan pergaulan bebas.
Keuntungan dari wisata halal harus berasal dari sumber yang jelas dan sesuai syariah.
Nilai Keuntungan dari Wisata Tiram.
Wisata berbasis tiram memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan baik. Berikut analisisnya:
a) Potensi Pendapatan Wisata Tiram
Tiket masuk wisata & edukasi: Rp10.000 – Rp50.000 per orang. Kuliner berbasis tiram (sushi halal, sate tiram, sup tiram): Rp25.000 – Rp100.000 per porsi. Budidaya tiram untuk restoran & ekspor: harga tiram segar Rp50.000 – Rp200.000/kg. Oleh-oleh khas: kerupuk tiram, abon tiram, atau suplemen berbasis tiram.
b) Estimasi Keuntungan
Misalkan dalam sebulan ada 10.000 pengunjung yang mengeluarkan rata-rata Rp100.000 per orang untuk tiket, makanan, dan suvenir: Pendapatan wisata: 10.000 × Rp100.000 = Rp1 Miliar/bulan.Pendapatan dari budidaya tiram (500 kg/bulan): 500 × Rp100.000 = Rp50 Juta/bulan Total potensi pendapatan: Rp1,05 Miliar/bulan
Jika biaya operasional sekitar 50%, maka laba bersih bisa mencapai Rp500 Juta/bulan.
c) Faktor Pendukung Keuntungan
Dukungan syariah: Wisata halal lebih menarik bagi wisatawan Muslim. Daya tarik ekowisata: Konsep ramah lingkungan semakin populer. Minat pasar terhadap kuliner laut: Produk olahan tiram memiliki permintaan tinggi.
Wisata berbasis tiram dengan pendekatan ekoteologi dan syariah berpotensi menjadi industri yang menguntungkan sekaligus berkelanjutan. Bagaimana menurut bro? Ada aspek tertentu yang mau dibahas lebih lanjut?
Wisata Pendekatan Adat Basandi Syarak di Pantai Tiram.
Pendekatan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dalam wisata berarti mengintegrasikan nilai-nilai adat Minangkabau yang berlandaskan Islam ke dalam konsep wisata. Ini akan menciptakan wisata berbasis budaya, agama, dan ekologi yang khas dan berkelanjutan.
1. Prinsip ABS-SBK dalam Wisata
Pendekatan ini dapat diterapkan dalam beberapa aspek utama:
a) Arsitektur dan Tata Ruang
Bangunan dan fasilitas menggunakan arsitektur rumah gadang dengan ornamen Islami. Masjid dan surau menjadi pusat wisata spiritual. Kawasan wisata dirancang dengan prinsip “alam takambang jadi guru”—menghormati keseimbangan alam.
b) Tata Nilai dalam Wisata
Konsep wisata halal: Tidak ada praktik yang bertentangan dengan syariat, seperti perjudian, alkohol, atau pergaulan bebas.
Pengunjung diajak untuk menghormati nilai-nilai adat, seperti berpakaian sopan dan menjaga tutur kata. Kegiatan wisata dilengkapi dengan kajian Islam dan budaya Minang, seperti seni sastra tambo dan pantun adat.
c) Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Alam
Wisata ekologi dengan pelestarian bakau dan ekosistem pantai. Pemanfaatan hasil laut secara berkelanjutan, seperti budidaya tiram dan ikan tanpa merusak lingkungan.
Adanya ritual adat berbasis Islam, seperti doa bersama sebelum melaut atau panen tiram.
2. Jenis Wisata ABS-SBK di Pantai Tiram.
a) Wisata Religi dan Budaya.
Pesantren Alam: Pengunjung bisa belajar tafsir Al-Qur’an terkait lingkungan. Festival Adat Minang: Misalnya prosesi batagak rumah gadang atau baralek gadang di kawasan pantai. Wisata Ziarah: Mengunjungi tokoh ulama Minang dan memahami peran mereka dalam sejarah Islam.
b) Wisata Kuliner Halal
Kuliner khas Minang berbasis hasil laut, seperti pangek ikan, sate tiram, dan palai bada. Kafe syariah di pinggir pantai, di mana pengunjung bisa menikmati suasana sambil mendengarkan musik Islami atau kaba adat.
c) Wisata Alam dan Konservasi
Ekowisata bakau dengan perahu tradisional. Wisata edukasi budidaya tiram dengan sistem ramah lingkungan. Perkemahan Syariah: Camping keluarga dengan sesi kajian Islami dan kebudayaan Minang.
3. Prospek Ekonomi dan Nilai Keuntungan
Pendekatan ABS-SBK dapat meningkatkan daya tarik wisata Pantai Tiram karena:
Menarik wisatawan Muslim dan pecinta budaya. Meningkatkan ekonomi lokal, terutama bagi nelayan dan UMKM.
Membangun citra positif Sumatera Barat sebagai destinasi wisata halal & berbasis adat.
Estimasi keuntungan bisa mirip dengan wisata tiram sebelumnya, dengan tambahan pendapatan dari paket wisata religi dan budaya.
Kesimpulan
Pendekatan ekoteologi di Pantai Tiram menggabungkan nilai-nilai Islam dan ekologi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengembangkan ekonomi berbasis wisata halal. Dalam Islam, manusia sebagai khalifah fil ardh memiliki tanggung jawab moral untuk merawat alam, yang dapat diwujudkan melalui konservasi hutan bakau, pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta pengembangan ekowisata halal.
Potensi ekonomi Pantai Tiram dapat dikembangkan melalui wisata halal dan ekowisata, usaha kelautan berkelanjutan, serta pengelolaan lingkungan berbasis ekonomi. Bisnis berbasis ekoteologi ini tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem.
Konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dalam wisata Pantai Tiram memperkuat integrasi nilai Islam dan adat Minangkabau dalam pengelolaan lingkungan dan aktivitas wisata. Wisata berbasis budaya, religi, dan ekologi ini berpotensi menarik wisatawan Muslim sekaligus memperkuat identitas lokal.
Dengan pendekatan ekoteologi dan ABS-SBK, Pantai Tiram dapat menjadi model wisata halal berkelanjutan yang menjaga keseimbangan ekosistem, mendukung ekonomi masyarakat, dan memperkuat nilai-nilai Islam serta adat Minangkabau. Ds,@pantaitiram03042025.
*Pembina media online sigi24.com indonesiamadani.com dan youtube surau professor